Di era digital ini, semua kegiatan perbankan dapat dilakukan secara online, mulai dari transaksi hingga pengajuan pinjaman. Namun, kegiatan online ini tak lepas dari ancaman fraud yang meningkat setiap harinya. Bahkan di tahun 2025, terdapat sebanyak 7.423 kasus mengenai kejahatan manipulasi data. Angka ini menunjukkan bahwa bisnis, terutama di bidang perbankan, perlu mengambil langkah-langkah efektif untuk mencegah fraud yang semakin marak terjadi. Artikel ini akan memberikan beberapa strategi anti-fraud yang dapat diterapkan oleh industri perbankan yang hampir seluruh kegiatannya berbasis digital.
Jenis-Jenis Fraud dalam Perbankan
1. Penipuan Internal
Jenis fraud ini terjadi dalam bank itu sendiri yang dilakukan oleh karyawan karena penyalahgunaan wewenang. Bentuk fraud internal seperti korupsi, manipulasi laporan keuangan, dan penggelapan data.
2. Penipuan Eksternal
Jenis penipuan ini dilakukan oleh pihak luar bank. Penipuan ini umumnya dilakukan secara online, seperti pencurian identitas, phishing, dan card skimming. Penipuan eksternal termasuk kejahatan siber yang memanfaatkan teknologi canggih untuk menembus sistem keamanan perbankan.
Strategi Efektif Anti-Fraud
1. Audit Internal Berkala
Langkah utama yang dapat dilakukan oleh bank dalam strategi anti-fraud yaitu melakukan audit operasional bank seperti kebijakan, prosedur, serta aktivitas harian bank. Tujuan audit ini untuk memastikan aktivitas keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan pemerintah dan perkembangan bank yang sehat.
2. Pelatihan Karyawan
Rendahnya kesadaran karyawan akan fraud dapat menimbulkan potensi kejahatan siber, sehingga penting memberikan edukasi mengenai modus fraud terbaru dan cara mendeteksinya. Dengan pemahaman karyawan mengenai anti-fraud, ketika terdapat transaksi mencurigakan pada laporan keuangan, dapat cepat diidentifikasi dan diatasi. Selain edukasi kesadaran fraud, pelatihan tentang teknologi yang digunakan oleh bank juga penting dilakukan untuk menghindari adanya kelalaian dan mempercepat alur kerja.
3. Edukasi Nasabah
Selain edukasi terhadap karyawan, pemberian edukasi kepada nasabah juga penting dilakukan untuk menghindari adanya penipuan nasabah yang mengatasnamakan bank. Dengan adanya edukasi ini, nasabah dapat menghindari terjadinya kejahatan siber yang sangat merugikan.
4. Penggunaan Teknologi OCR Untuk Mengelola Laporan Bank
Memanfaatkan teknologi canggih seperti Optical Character Recognition untuk mempercepat pengolahan dan analisis bank statement secara akurat dan meminimalkan kesalahan manual yang sering terjadi pada metode manual.
5. Penerapan Teknologi Biometrik
Dalam operasional bank, tentu terdapat proses verifikasi seperti KYC (Know Your Customer) pada proses pembuatan rekening dan peminjaman dana. Dengan menggunakan sistem biometrik pada KYC, bank dapat memastikan keaslian dan kecocokan data pada KTP dengan swafoto yang diunggah oleh pelanggan. Sistem biometrik menggunakan autentikasi berbasis pengenalan wajah untuk meningkatkan keamanan akses. Hal ini sangat bermanfaat bagi bank dalam strategi anti-fraud, di mana bank dapat menghindari potensi-potensi kecurangan yang menimbulkan dampak besar seperti kerugian finansial dan reputasi perusahaan.
Tantangan dalam Anti Fraud
1. Keterbatasan Deteksi Manual
Menggunakan metode manual dalam mengelola laporan keuangan dan verifikasi dokumen bank dinilai tidak efektif. Selain menghabiskan waktu yang cukup lama, metode manual sering kali tidak mampu mengidentifikasi pola transaksi yang kompleks dan mencurigakan secara cepat. Hal ini dapat menghambat alur kerja dan berpotensi terjadinya fraud.
2. Kurangnya Kesadaran Karyawan dan Nasabah
Minimnya pemahaman tentang modus penipuan, terutama penipuan berbasis digital, membuat bank dan nasabah rentan menjadi target fraud. Ini menjadi salah satu tantangan besar bagi bank dalam pencegahan fraud.
Lindungi Bisnis Anda Dengan AnyCheck!
Menggunakan teknologi verifikasi canggih seperti AnyCheck merupakan strategi anti fraud yang dapat dilakukan oleh semua industri terutama perbankan. AnyCheck mampu mendeteksi kecurangan pada dokumen hingga modifikasi sekecil apapun. Ini memungkinkan bank memiliki alur kerja yang efisien, mematuhi peraturan yang berlaku, serta menghindari terjadinya aktivitas fraud yang merugikan.